//
you're reading...
Alam dan Lingkungan

Demonstrasi tanpa Anarkisme

HARI-HARI ini demonstrasi pecah di berbagai daerah. Anak-anak muda yang militan mengenakan jaket almamater turun ke jalan-jalan mengibarkan spanduk. Mereka membakar ban-ban bekas dan mengeluarkan yel-yel.

Mahasiswa, juga buruh, mengusung satu tema menolak penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Mereka menentang kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM dari Rp4.500/liter menjadi Rp6.000/liter mulai 1 April nanti.

Pemerintah mendapat dukungan sohibnya enam partai koalisi, yakni Demokrat, Golkar, PKS, PAN, PPP, dan PKB. PKS memastikan sikapnya mendukung penaikan harga BBM bersubsidi setelah diancam didepak dari koalisi.

Di barisan penentang ada PDIP, Gerindra, dan Hanura didukung mahasiswa dan buruh. Hasilnya, Rapat Badan Anggaran DPR gagal mencapai kesepakatan dan memutuskan membawa soal penaikan harga BBM ke Rapat Paripurna DPR yang digelar hari ini. Hari ini pula menjadi puncak unjuk rasa mahasiswa dan buruh menentang kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM.

Melalui forum ini kita ingatkan bahwa demonstrasi ialah hal yang biasa di semua negara demokrasi. Demonstrasi merupakan sarana rakyat menyampaikan aspirasi ketika saluran demokrasi, yakni DPR, tersumbat. Demonstrasi menjadi langkah terakhir tatkala pemerintah lebih mendengarkan suaranya sendiri dan mengesampingkan nurani publik.

Pemerintah tidak perlu berlebihan merespons aksi mahasiswa, apalagi sampai mengerahkan tentara. Tempat tentara di barak dan tugasnya ialah berperang, bukan di jalanan menakut-nakuti dan menghalau mahasiswa.

Kita juga ingatkan tentara agar tidak terpancing keluar dari barak untuk berhadapan dengan mahasiswa. Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998, Tragedi Semanggi I pada 13 November 1998, dan Tragedi Semanggi II pada 24 September 1999, semuanya menelan korban jiwa. Kekerasan, bahkan pelanggaran HAM terhadap mahasiswa yang terjadi di zaman Orde Baru itu masih tersimpan apik dalam memori publik dan jangan terulang lagi.

Publik juga masih ingat, keterlibatan TNI menjaga sarana-sarana publik pada 1998 telah membentuk penilaian berbeda-beda bagi kesatuan-kesatuan di lingkungan TNI. Ada kesatuan yang menjadi idola dan sahabat rakyat, ada pula kesatuan yang dicemooh, dicaci, dan dianggap musuh rakyat.

Bagi mahasiswa yang berdemonstrasi, kita memberi apresiasi. Ketika suara rakyat tersumbat di DPR, tatkala wakil rakyat lebih berhamba pada jabatan, kekuasaan, dan uang, mahasiswa muncul menggaungkan nurani publik.

Perlu kita ingatkan bahwa demonstrasi membela rakyat adalah agung dan mulia. Oleh karena itu, jangan terprovokasi kemudian terjebak dalam tindakan brutal dan mencelakakan. Jangan pula melumuri perjuangan dengan merusak aset-aset negara karena semua itu adalah milik rakyat.

Perjuangan mahasiswa harus tetap menggunakan nalar dan hati nurani serta fokus pada garis perjuangan. Mahasiswa harus yakin bahwa kekuatan nalar dan hati nurani akan mengalahkan segala kezaliman.

Mahasiswa memiliki banyak referensi dalam berdemonstrasi. Pemerintah dan polisi juga mempunyai banyak pilihan untuk meredam unjuk rasa. Kedua pihak sepatutnya memilih cara-cara yang elegan tanpa merusak harta negara apalagi menelan korban jiwa.

Sumber: editorial Media Indonesia, 27 Maret 2012

About tanahkerontang

Berusaha untuk Berpikir Cerdas, Bekerja Keras, Bekerja Tuntas dan Bekerja Ikhlas

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: