//
you're reading...
Umum

Kebiasaan Buruk yang Membudaya di Indonesia

Kondisi Indonesia saat ini bisa dikatakan berada dalam keterpurukan. Banyak faktor penyebab terjadinya hal tersebut. Namun dari sekian banyak faktor yang ada, saya mencoba untuk mengidentifikasi 10 kebiasaan buruk yang paling sering terjadi dan seakan sudah menjadi “Kearifan Lokal” hehehe…

Berikut ini kesepuluh kebiasaan buruk tersebut:
1. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme;
2. Kebiasaan Menjilat dan Beking Membekingi;
3. Mendewa-dewakan segala hal yang Berbau Asing;
4. Kebiasaan Berhutang dan Membeli Cara Kredit;
5. Kebiasaan memperoleh sesuatu dengan Cara Instan;
6. Berlaku Sok Jagoan dan Sok Siap menghadapi tantangan;
7. Mendahulukan Keuntungan Pribadi daripada Kepentingan Negara dan Masyarakat;
8. Kalah Dalam Segala Event dan Tertinggal jauh dalam Cara Berfikir;
9. Tidak Bersungguh-sungguh dan Tidak Serius dalam Berkarya;
10.Tidak Disiplin, Selalu Melanggar Hukum dan Peraturan.

Setelah kita ketahui kesepuluh kebiasaan buruk itu, saya mencoba untuk mengurai sisi-sisi negatif yang ditimbulkan kebiasaan buruk tersebut yang berperan dalam keterpurukan yang dialami Bangsa ini.
1. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)
Adanya Komisi Pemberantasan Korupsi tentunya patut disyukuri dengan harapan KPK serius dalam membongkar kasus korupsi dan kolusi yang selama ini cenderung ditutup-tutupi bahkan acapkali dilakukan secara berjamaah. Perbuatan korupsi sama saja dengan pembunuhan terhadap bangsa dan tidak ada satupun negara yang melegalkan perilaku korupsi. Beberapa ciontoh yang terjadi di beberapa Negara yang memberlakukan Hukuman Mati, Hukum Gantung dan sebagainya seperti Cina. Tapi, sebelum opsi itu dilakukan saya sendiri berharap kebiasaan yang ada di Jepang dimana apabila ada pejabat yang baru terindikasi/diisukan melakukan tindak pidana korupsi, pejabat yang bersangkutan memilih mundur bahkan ada yang melakukan Harakiri. Hmmmm, budaya malu di Jepang untuk hal seperti ini setidaknya masih terjaga. Mirip budaya Siri’ di Makasar (tentunya daerah lain di Indonesia pun ada budaya seperti ini tapi dilupakan dan parahnya tidak dibudayakan). Tragis.

2. Kebiasaan Jilat Menjilat dan Beking Membekingi
Kebiasaan menjilat biasanya “turunan” dari kolusi dan nepotisme yang leluhurnya adalah keSerakahan. Saya sendiri yakin kita semua sudah tahu, siapa yang dimaksud dengan penjilat. Umumnya ini banyak terjadi di perkantoran. Penjilat ibarat teman yang suka menikam dari belakang demi mencapai kepentingan pribadi dan golongannya saja dengan mengabaikan kepentingan yang lebih luas.

Umumnya ini dilakukan untuk memperoleh perhatian dari atasan, berharap jabatan dan posisi “basah” dan upaya untuk melanggengkan “kebasahannya”…hahaha…BASA MAMI.
Itu gambaran jilat menjilat di perkantoran. Lalu, bagaimana jilat menjilat ini terjadi disebuah Negara? Sudah pasti pelakunya adalah oknum pejabat, bisa juga penegak hukum atau bisa jadi mereka adalah obyek yang dijilati…waduuuh. Kalau di lingkungan perkantoran yang dikorbankan sudah pasti adalah pegawai kantor lainnya (yang menjunjung profesionalisme dan integritas), di lingkungan negara yang dikorbankan adalah rakyat dan negara itu sendiri. Banyak kasus yang terjadi seperti halnya upaya pelemahan KPK, bank Century, Wisma Atlit, dsb. Tapi memang kebiasaan ini ternyata sudah terjadi sejak jaman kolonial dimana pelakunya disebut sebagai “Antek-antek Kolonial”. Kalau sekarang, mungkin namanya sudah macam-macam. Yang dijilati namanya pun beragam, bisa Bos Besar, Ketua Besar yang seneng ama Apel Malang dan Apel Washington…

3. Mengagung-agungkan segala hal yang Berbau Asing
Seperti apa misalnya? Kita (Bangsa Indonesia) terlalu takut kehilangan investor yang kenyataannya justru memeras kekayaan alam kita tentunya dengan fasilitasi dari oknum-oknum korup di Indonesia. Kebiasaan kita yang selalu mengukur kemajuan suatu bangsa lebih dikarenakan dengan pembangunan apartemen, pembangunan gedung pencakar langit, flyover, banyaknya swalayan, mall-mall mewah sehingga melupakan pembangunan manusia (pola pikir).  Gunung emas di Tembagapura, Salah satu yang membuat ekonomi kita terus menerus terjajah di abad modern ini adalah karena sikap kita yang terlalu mendewa-dewakan orang asing dan segala yang berlabel asing, sehingga membuat kita tidak percaya diri dan tidak bisa melepas diri ketergantungan kepada asing. Inilah yang menyebabkan kita selalu ditakut-takuti dan didikte oleh bangsa-bangsa lain. Padahal kita adalah bangsa besar. Rakyat kita adalah pasar yang besar. Negara kita negara kaya raya. Kita punya gunung emas di Irian. Kita punya pulau Natuna dengan Gas Alamnya dan beribu pulau lain yang penuh dengan kekayaan alamnya. Kita juga punya kekayaan panas bumi dimana-mana. Kita punya lautan luas yang termasuk salah satu terhebat di dunia. Kita punya hutan dan tanah yang sangat subur yang bisa dibilang paling subur didunia karena cukup matahari dan hujan, karena terletak di sepanjang khatulistiwa. Kita juga punya tambang, minyak bumi, timah, batubara dan lain-lain. Intinya kita punya segala-galanya. Cuma satu yang tidak kita punyai yaitu Mental untuk Merdeka, dan Berani Berdiri Diatas Kaki Sendiri.

4. Kebiasaan Berhutang dan Membeli dengan Cara Mengkredit
Berawal dari pernyataan tanri Abeng yang mengatakan “Tidak ada Negara yang Miskin, yang adalah Negara yang salah kelola/salah urus”.

Kebiasaan ngutang bukan saja familiar dengan masyarakat kecil, ini juga ternyata sudah membudaya di level elit dan para pemimpin negara. Hutang membuat kita terikat dan tidak lagi bebas. Apalagi jika hutang itu diikuti dengan penandatanganan berbagai persyaratan yang sebenarnya sangat mencekik dan tidak memihak kepentingan Rakyat seperti yang pernah dan mungkin masih dilakukan antara Pemerintah Indonesia dengan IMF (International Monetary Fund). Mudharat dan kerugiannya bagi Bangsa Indonesia masih kita tanggung hingga tulisan ini diposting.Huffffttt…

5. Selalu Ingin Memperoleh Sesuatu dengan cara Instan
Miskin Kreatifitas dan suka Minta Petunjuk. Itulah watak sebagian orang Indonesia. Tidak mau berkeringat, malas berfikir, pengecut dan takut berkompetisi yang diperparah dengan keengganan menerima tantangan. Akhirnya ia terjebak dengan melakukan segala sesuatunya dengan cara-cara instan. Bisa saja sebagian besar masyarakat kita lebih memilih cara-cara instan sehingga seperti inilah jadinya negara kita, dihuni oelh orang-orang bermental kerupuk.

6. Berlaku Sok Jagoan dan Siap Menerima Tantangan Apapun
Kebiasaan yang kerap dipertontkan pemimpin-pemimpin bangsa kita. Harapannya pemimpin kita bisa lebih relistis dalam melihat kondisi Negara dan setelahnya mengambil sikap selayaknya Negarawan yang bisa diandalkan untuk memproteksi Negara kita dari kelicikan-kelicikan bangsa lain. Sepertinya pemimpin kita “sedikit” lupa bahwa Negara kita Indonesia ini adalah Negara yang berdaulat dan tidak boleh didikte begitu saja oleh kepentingan asing yang ingin menggerogoti segala sendi kehidupan kita.

Kita janganlah sok jagoan dengan membuat Negera kita selayaknya Las Vegas, Macau atau yang lainnya. Jangan pula kita mengadopsi budaya Western seperti para koboi yang “terlihat” seakan-akan menjunjung tinggi sportifitas. Semestinya kita harus tahu diri dan sadar akan kapasitas diri kita. Negara yang notabene lebih makmur saja masih menjaga dan memberikan proteksi penuh terhadap negaranya seperti yang pernah terjadi di Malaysia saat krisis ekonomi melanda, mereka memproteksi diri dengan mematok kurs dolar. Tidak seperti Indonesia, berlagak Jagoan tapi endingnya Mengemis ke IMF dan lembaga-lembaga donor lainnya biar bisa gagah-gagahan di Pasar Bebas.
7. Mendahulukan Kepentingan Pribadi daripada kepentingan Bangsa dan Masyarakat
Orang-orang seperti ini akan menempuh segala cara untuk mendapat keuntungan pribadi. Tidak lagi segan-segan menipu dan mengakali rakyatnya sendiri. Jika orang-orang yang bermental seperti ini berpolitik maka dia akan melakukan politik kotor seperti jual beli suara, politik dagang sapi dan lain-lain. Orang-orang seperti ini juga tidak segan-segan merusak negara sendiri dan menjajah bangsa sendiri demi kekayaan pribadi. Selama orang-orang bermental seperti ini masih bercokol di bumi kita ini, maka selama itu pula kita akan melihat tindakan-tindakan dan politik yang tidak bermoral, tidak peduli dan pengrusakan secara membabi buta di segala sendi kehidupan berbangsa dan bernegara dan juga kerusakan pada alam lingkungan yang menjadi sumber penghidupan.

8. Kalah dalam Segala Event & Tertinggal jauh dalam Cara Berfikir
Sudah menjadi tradisi bahwa kita selalu kalah dalam banyak hal, baik dalam pertandingan, dalam berkarya bahkan dalam cara berfikir.
Kita masih saja berfikir bagaimana menjual bahan baku, sedangkan bangsa-bangsa lain sudah berfikir bagaimana mengelola dan mengekspor produk (dulu ada program Petik, Olah dan Jual).
Kita masih saja berfikir bagaimana cara mengkadali dan mencari keuntungan dari bangsa dan rakyat sendiri (terjadilah penjajahan oleh bangsa sendiri) yang memang masih sangat lugu dan polos dengan berbagai trik kotor, sedangkan bangsa-bangsa lain sudah berfikir bagaimana cara mengakali dan mencari keuntungan dari Negara-negara lain.

9. Tidak Bersungguh-sungguh dan Serius dalam Berkarya
Harus menjadi Tuan Rumah di Negeri sendiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebahagian besar produk-produk karya anak bangsa kita kurang diminati dan kurang populer di Negara-negara lain, bahkan di negeri sendiri sajapun masih belum mampu menjadi tuan rumah. Dalam hal ini sepertinya saya lebih setuju dengan pendapat para teman-teman yang mengatakan bahwa, kurang diminatinya produk dan hasil karya bangsa kita sebab, dalam membuat produk apapun bangsa kita tidak tekun, tidak profesional, kurang serius dan kurang ber-sungguh-sungguh menekuni hasil karyanya. Kalaupun ada hasil karya yang bagus dan kompetitif, masyarakat kita cenderung lebih senang dengan Brand atau Merk luar (kurang Trust/kepercayaan yang disebabkan karena membudayanya kebiasaan Manipulatif).

10. Kebiasaan Tidak Disiplin dan Melanggar Hukum dan Peraturan
Orang yang berhasil dikarenakan ketaatannya dalam penerapan kedisiplinan dan kepatuhannya atas peraturan yang berlaku. Baik itu peraturan yang dibuat untuk diri sendiri atau peraturan Agama dan peraturan Negara. Ingatlah satu negara bisa makmur bila rakyatnya memiliki budaya berdisiplin yang tinggi. Lihat saja seperti Jepang, Korea, Singapore dan lain-lain.
Sementara di Indonesia sepertinya tidak disiplin dan melanggar hukum dan peraturan sudah jadi budaya kita. Sepertinya peraturan sengaja dibuat untuk dilanggar. Memang ada benarnya semboyan yang mengatakan “Bukan peraturan namanya kalau tidak dilanggar”. Tapi kalau terus menerus melanggar peraturan itu namanya salah kaprah. Dari hal-hal kecil seperti memungut pajak dari pedagang kaki lima, menerima uang dalam kasus tilang menilang, sampai hal-hal dengan berskala besar.
Kalau kita benar-benar mau melihat negara ini aman, nyaman indah, makmur, dan sentosa, maka biasakanlah berdisiplin dan mentaati segala hukum dan peraturan, baik itu peraturan yang dibuat negara ataupun peraturan agama, termasuk juga peraturan yang menyangkut ketertiban umum, pemukiman dan kelestarian alam lingkungan dan lain-lain.

Itulah 10 kebiasaan buruk yang saat ini membudaya di masyarakat kita yang menjadi penyebab utama keterpurukan Indonesia. Semoga dengan tulisan diatas kita bisa introspeksi diri yang selanjutnya pelan-pelan meninggalkan kebiasaan tersebut. Semoga Semoga Semoga. Amiiiin…

About tanahkerontang

Berusaha untuk Berpikir Cerdas, Bekerja Keras, Bekerja Tuntas dan Bekerja Ikhlas

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: