//
you're reading...
Pendidikan

Renungan Hardiknas 2012

2 Mei 2012 pada Hari Pendidikan Nasional, Pendidikan di negara kita masih menyisakan masalah dan butuh perenungan untuk ditindaklanjuti semestinya. Mulai dari Sarana Prasarana, Kurikulum, Sumber Daya Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dan Pendanaan. Berikut hasil perenungan yang dimaksudkan untuk “menyadarkan” kita semua betapa Pendidikan memberi efek terhadap tumbuh kembang suatu bangsa.

Dikotomi Pendidikan

Negeri ini masih belum adil dalam mengimplementasikan pendidikan untuk semua warga negaranya. Hal ini dibuktikan dengan pengkotak-kotakan dalam layanan pendidikan semisal perbedaan layanan bagi siswa (i) antara yang bersekolah di sekolah standar, sekolah RSBI dan sekolah SBI. Indikasi yang muncul dari pengkotakan tersebut adalah pembeda kemampuan yang didasarkan atas kemampuan finansial dan bukan lagi didasarkan pada kemampuan akademis. Seakan akan, suatu daerah yang tidak memiliki sekolah RSBI atau SBI dianggap tertinggal sehingga hal ini memunculkan perlombaan/persaingan tidak sehat. Diperparah lagi dengan perhatian daerah yang lebih terfokus pada pembinaan untuk sekolah dengan kategori RSBI dan SBI ditandai dengan kucuran dana besar yang bersumber dari APBD daerah, dengan kecenderungan menafikan keberadaan sekolah standar atau pra standar.

Penguatan Peran dan Optimalisasi Pola Rekrutmen Guru

Diantara sekian unsur yang mempengaruhi kualitas pendidikan, Guru adalah salah satunya dan memegang peranan teramat penting. Guru yang membentuk dan memoles peserta didik sesuai dengan kurikulum yang berlaku, mulai dari aspek kognisi, afeksi sampai aspek psikomotoriknya. Dikarenakan besarnya peranan dari guru tersebut, perlu dilakukan peninjauan tentang pola rekrutmen dan pembinaan yang tepat untuk Guru dengan menyesuaikan pada perkembangan dunia pendidikan yang dinamis seperti sekarang ini. Hal yang sering dikeluhkan masyarakat adalah jomplangnya kemampuan akademis Guru dengan harapan (tuntutan) orangtua siswa. Belum lagi latar belakang pendidikan Guru yang terkadang berasal dari jurusan-jurusan non kependidikan lalu terjun ke dunia pendidikan dengan ijazah Akta IV yang diperoleh dengan maksud semata-mata hanya sebagai pemenuhan persyaratan untuk menjadi Guru yang sekarang diiming-imingi dengan kesejahteraan yang lebih baik melalui Sertifikasi. Sehingga, pilihan untuk menjadi Guru bukan berasal dari ketetapan hati, tetapi lebih didasarkan pada pola pikir oportunis dengan maksud untuk meraih peluang yang ada. Termasuk juga perlu dilakukan pengetatan terhadap rekrutmen peserta sertifikasi Guru yang menuai banyak masalah di beberapa daerah. Masa kerja yang belum memadai, faktor kedekatan dengan pengelola sertifikasi di Dinas Pendidikan, dan masih banyak lagi permasalahan sekaitan dengan Sertifikasi Guru ini.

Dari sisi penguatan, sertifikasi guru seharusnya menjadi pemacu dan peningkat kualitas pendidikan. Namun kenyataan miring adalah ketiadaan lompatan yang optimal sejak sertifikasi itu diterima. Sertifikasi tidak lebih hanya sebagai tambahan gaji dan pendapatan dan tidak berkorelasi pada kualitas, dan ini masih perlu dibuktikan. Hal ini diperparah dengan kurangnya kontrol Pusat terhadap Pengelola Sertifikasi di Tingkat Daerah khususnya Kabupaten Kota.

Ujian Nasional

Ujian Nasional saat ini dianggap sebagai momok yang menakutkan. Betapa tidak karena Program ini seakan-akan sebagai penentu nasib seseorang  dengan peyelenggaraan yang hanya beberapa hari saja. Padahal sudah jelas-jelas pelaksanaannya yang menelan Anggaran Pendidikan yang tidak sedikit, memberi efek “depresi” setiap tahunnya bagi para orang tua dan siswa-siswi itu sendiri. Secara konsep Ujian Nasional didesain sebagai alat ukur pemetaan mutu Pendidikan, termasuk diantaranya sebagai dasar seleksi ke jenjang Perguruan Tinggi serta sebagai dasar pemberian bantuan kepada Satuan Pendidikan.

Kecenderungan yang ada sekarang adalah sinyalmen bahwa Pemerintah masih malu-malu untuk mengevaluasi keberlanjutan pelaksanaan Ujian Nasional sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi. Walhasil, bentuk konkret dari ke”malu-malu”an Pemerintah adalah dengan pemberian porsi lebih banyak pada Satuan Pendidikan melalui pembobotan kelulusan siswa yaitu 40% untuk nilai sekolah dan 60% untuk nilai UN. Akan tetapi, sosialisasi menyangkut perubahan kebijakan itu belum sepenuhnya diketahui oleh masyarakat. Akibatnya, UN masih saja menjadi hal istimewa dan membuat orang takut. Untuk mengantisipasi “ketakutan” jelang Ujian Nasional, para orangtua dengan kemampuan memadai memberi fasilitas bimbingan belajar bagi anak-anaknya, tapi bagaimana dengan orangtua siswa yang latar belakang ekonominya tidak memungkinkan?

Fasilitas Pendidikan

Kontradiksi yang terjadi jika berbicara tentang fasilitas pendidikan saat ini adalah adanya kesenjangan antara daerah Jawa dan Luar Jawa. Belum lagi persoalan akses ke Pengambil Kebijakan untuk memperjuangkan nasib Satuan Pendidikan dan Daerah ke Pemerintah Pusat. Mengapa mesti ke Pemerintah Pusat? Karena Pemerintah Daerah lebih sibuk untuk memikirkan kepentingan politis di daerah. Contoh konkretnya adalah ketika berbicara tentang penganggaran sektor Pendidikan, tidak semua Daerah patuh dan tunduk terhadap Undang-Undang tentang pengalokasian 20% dari total anggarannya. Jadilah Satuan Pendidikan di Daerah ibarat pengemis yang berharap mendapatkan kue APBN. Padahal semestinya pengelolaan Pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Jadilah Rakyat sebagai korban dari Program Pendidikan, mulai dari Pendidikan Dasar 9 Tahun atau Pendidikan Dasar 12 Tahun yang sering didengung-dengungkan Pemerintah dan Para Wakil Rakyat. Rakyat adalah korban dari ketidakmampuan untuk mendapat pendidikan yang layak dan setara dengan anak-anak lain. Jangankan untuk bersekolah, untuk makan dan memenuhi kehidupan sehari-hari saja masih banyak diantaranya yang bekerja serabutan dan bahkan kesulitan mendapatkan pekerjaan.

 

Kesetaraan hak setiap warga akan pendidikan

Pemerintah adalah pengayom dan abdi masyarakat. Jika Pemerintah serius, maka segala hal yang menjadi masalah yang berkaitan dengan masyarakat, tidak perlu terjadi. Pemerintah dengan segala kewenangan yang diberikan/diamanahkan rakyat, seharusnya mampu mensejahterakan rakyatnya. Tetapi yang terjadi saat ini adalah kebalikannya. Pejabat-pejabat kita justru menjadi obyek yang dilayani. Mereka memperlihatkan gaya hidup mewah, mendirikan istana dan tempat peristirahatan, berlomba melengkapi diri dengan kendaraan mewah sedangkan disisi lain masyarakat mesti menanggung beban hidup teramat berat, seperti makin sulitnya memperoleh pekerjaan, akses kesehatan yang sulit, biaya pendidikan yang makin tak terjangkau, harga kebutuhan pokok yang melonjak seiring naiknya Bahan Bakar Minyak.Semua tentu menyadari betapa kesan menutup mata dari pejabat-pejabat publik itu tidak bisa disembunyikan dengan apologi dan lipservice mereka yang dipublikasikan media.

 

Kurikulum

Kurikulum juga menyumbang permasalahan dikarenakan menumpuknya target yang harus dicapai oleh peserta didik. Banyaknya target yang harus dicapai mengakibatkan potensi peserta didik kurang tergali dengan maksimal. Energi peserta didik dihabiskan untuk menyelesaikan beban belajar yang sangat banyak termasuk padatnya jadual belajar yang berimbas pada tersedotnya energi, perhatian dan psikis.

Perlu reorientasi Kurikulum dengan mengacu pada skala prioritas dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya.Dengan demikian, harapan Pemerintah untuk melahirkan Generasi Emas bukan sekadar Mimpi Belaka.

Semoga memberi manfaat

Sumber: Dari berbagai sumber

About tanahkerontang

Berusaha untuk Berpikir Cerdas, Bekerja Keras, Bekerja Tuntas dan Bekerja Ikhlas

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: