//
you're reading...
Pendidikan

Pendidikan Kejuruan dalam Konsep

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada awalnya dianggap sebagai lembaga pendidikan “tingkat dua”. Alumninya berkarier tak jauh-jauh dari profesi tingkat dasar seperti tukang kayu, montir, pelayan, tukang batu dan beberapa profesi yang dicitrakan kurang sedap yang melahirkan stigma kurang menjanjikan jika bersekolah di SMK. Adapun fenomena meningkatnya peminat SMK beberapa tahun terakhir ini, masih perlu dikaji lebih lanjut apakah hal tersebut mengindikasikan telah memudarnya citra negatif SMK di masyarakat. Termasuk juga sampai sejauhmana produk-produk yang dihasilkan oleh anak-anak SMK saat ini, berpengaruh terhadap animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SMK.

Harus diakui bahwa pendidikan kejuruan memiliki beberapa kelebihan. Pertama, lulusan SMK berpeluang untuk mengisi lapangan kerja tingkat menengah pada dunia usaha dan dunia industri, didasarkan pada kompetensi yang dimilikinya setelah mengikuti uji kompetensi kejuruan yang melibatkan Dunia Usaha dan Dunia Industri dalam penilaiannya, termasuk juga pengalaman untuk beradaptasi dengan suasana dan lingkungan kerja yang diperoleh melalui program Pendidikan Sistem Ganda (PSG).

Kedua, lulusan pendidikan kejuruan bisa melanjutkan ke jennjang pendidikan yang lebih tinggi sesuai dengan standar yang disyaratkan oleh Institusi yang bersangkutan seperti standar nilai dan kesesuaian program studi yang dimiliki. Jika menilik perkembangan Sekolah Menengah Kejuruan yang saat ini, berbagai prestasi telah ditorehkan yang salah satunya adalah keterlibatan SMK di Indonesia dalam ASEAN Skill Competetition dengan prestasi yang senantiasa meningkat di tiap tahunnya. Namun pun demikian bukan berarti pendidikan kejuruan di Indonesia sepi dari masalah, problem ketidakterkaitan (mismatch) antara SMK dengan dunia usaha atau dunia industri adalah salah satunya. Hal ini disebabkan beberapa aspek.
Pertama, tidak semua dari SMK yang ada mampu mencetak lulusan yang adaptif/mampu beradaptrasi dengan dunia kerja. Hal ini disebabkan keterbatasan/tidak tersedianya fasilitas bengkel atau laboratorium kerja yang layak dan modern, serta kurang terbangunnya kerjasama yang kuat dengan dunia kerja.
Kedua, dari aspek tenaga pengajar, banyak guru SMK yang ketinggalan dalam meng-update keahlian agar sesuai dengan perkembangan zaman. Akibatnya, banyak pendidikan di SMK yang dijalankan secara asal-asalan yang muaranya hanya menghasilkan lulusan tanpa kompetensi memadai.
Ketiga, program-program yang ditawarkan SMK saat ini belum efektif dan efisien. Ini dapat dilihat dari kualitas lulusan yang belum mampu menjawab tantangan dunia industri.
Dengan kata lain, belum ada kesesuaian antara SMK dan industri yang pada awalnya diharapkan mengacu pada konsep Link and Match. Melihat kondisi ini, sudah semestinya pemerintah terus berbenah. Bukan hanya pemerintah pusat, pemerintah daerah pun mesti mengambil peran. Menentukan Graduates Absorbability Priority (GAP)/Prioritas Ketersepatan Lulusan adalah satu hal yang penting. Dengan menerapkan langkah ini, akan diperoleh data dan informasi secara rinci tentang “mau diarahkan kemana dan ke jenis lapangan kerja apa” siswa-siswi SMK nantinya.
Ulasan ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari Grand Strategy Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan dalam menetapkan acuan skala prioritas keterserapan tamatan. Namun, sejalan dengan otonomi pendidikan, tentu saja hal ini akan memudahkan daerah dalam menetukan kebutuhan yang sesuai dengan karakteristik dan potensi di tiap daerah yang pastinya berbeda antara satu dengan lainnya. Apalagi jika menilik pada dinamisasi permintaan pasar tenaga kerja terhadap lulusan Sekolah Menengah Kejuruan yang semakin meningkat. Selain itu, dengan penentuan prioritas keterserapan lebih awal, memungkinkan Satuan Pendidikan Kejuruan untuk mendisain sistem, pola dan program yang relevan sejak tahapan rekrutmen siswa baru hingga mereka tamat dari SMK tersebut.
Adanya Kepastian Karier
Selanjutnya diperlukan pula perubahan yang menyentuh pada sistem rekrutmen siswa baru SMK, yang dimulai dari tahap promosi/sosialisasi, pendaftaran hingga pada tahap seleksi dan pendistribusian ke Program Studi pilihan. hal ini dimaksudkan agar pihak sekolah bisa memperoleh input yang memiliki kualitas atau kemampuan baik dari sisi intelektual maupun finansial yang bisa diandalkan mengacu pada Graduates Absorbability Priority yang telah didesain sebelumnya. Dalam proses seleksi siswa baru, diharapkan Satuan Pendidikan Kejuruan tidak hanya menyeleksi kemampuan intelektual dan finansial calon siswa tetapi juga minat (keinginan calon siswa setelah tamat SMK; apakah mau bekerja atau melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi) serta bakat yang dimiliki oleh anak tersebut. Ini merupakan awal dari pemetaan yang bersinergi dengan pengembangan dan penelusuran karier bagi setiap siswa pada saat menjalani proses rekrutmen sebagai siswa baru di SMK.
Cara ini akan memudahkan untuk mengetahui secara pasti tentang apa yang dibutuhkan dan selayaknya diberikan bagi mereka sejak mulai duduk di bangku SMK. Sementara bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk melanjutkan studi selepas SMK, harus diberikan  penanganan khusus oleh pihak sekolah berupa kurikulum tambahan yang bisa mendukung keinginan mereka tersebut, selain pelajaran-pelajaran keahlian sesuai dengan jurusannya masing-masing.
Penerapan pendekatan diatas memungkinkan pihak SMK untuk mengetahui calon siswa secara lebih detil menyangkut kemampuan intelektual, finansial dan proyeksi masing-masing siswa dalam kepastian karier selepas menyelesaikan pendidikannya di SMK. Satu hal yang pasti bahwa alumni SMK adalah produk yang mesti menyesuaikan dan mampu memenuhi kebutuhan dari pengguna jasa. Sudah pasti ia akan mengikuti sifat sebuah produk dalam suatu kancah perdagangan. Jika suatu produk hanya laku untuk konsumen kelas bawah, maka apresiasi yang muncul juga terbatas dari kalangan bawah, demikian pula sebaliknya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana produk-produk SMK dengan segala kekurangan dan kelebihannya “dipoles sedemikian rupa” sehingga bisa memiliki nilai ‘jual’ yang tinggi yang pada gilirannya mampu membentuk stigma positif di masyarakat kita.
Karena suka atau tidak, sadar atau tidak, saat ini kita sudah masuk pada sebuah era dimana image, trend, pride dan sejenisnya menjadi starting point yang sangat menentukan karakter masyarakat apakah akan menetukan pilihan untuk menggunakan produk kita. Dengan demikian, SMK kedepan tak akan dipandang sekadar sebagai “PABRIK KULI” semata sebagaimana “sindiran” Henry A Giroux (1993) bahwa keberadaan sekolah-sekolah yang hanya sekadar sebagai “hamba” pabrik/industri. Tanpa disadari, institusi pendidikan telah melumpuhkan proses humanisasi anak didik lantaran hanya berjuang dalam dimensi ekonomi dan melupakan dimensi personal sebagai bagian dari integritas peserta didik.. Semoga tidak demikian.

About tanahkerontang

Berusaha untuk Berpikir Cerdas, Bekerja Keras, Bekerja Tuntas dan Bekerja Ikhlas

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: