//
you're reading...
Biografi

Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin lahir di Makassar pada 12 Januari 1631. Nama lengkapnya I Mallombassi Daeng Mattawang, Muhammad Bakir, Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin, yang setelah beliau Mangkat diberi tambahan nama Tumenanga Ri Balla Pangkana. Beliau adalah Putra Raja Gowa ke-15 Sultan Malikussaid. Beliau gigih menentang VOC Belanda sebagaimana yang juga dilakukan oleh para leluhurnya. Selain itu, dibawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Gowa juga mengemban misi Syiar untuk menyebarkan Agama Islam ke seluruh wilayah Kerajaan Gowa dan wilayah-wilayah di Indonesia Bagian Timur lainnya.

Selain itu, oleh Belanda beliau juga mendapat julukan De Haantjes van Het Oosten atau Ayam Jantan dari Benua Timur dikarenakan keberaniannya dalam mengusir penjajah. Hal yang beralasan jika menilik sepak terjang beliau dan Bala Tentaranya dalam medan pertempuran. Awal mula terjadinya gesekan antara Kerajaan Gowa dengan VOC Belanda tidak lain dikarenakan ketamakan Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah yang saat itu merupakan komoditi unggulan di pasar Eropa. Sebagai Kerajaan Besar yang menguasai 2/3 wilayah Nusantara, tentunya Kerajaan Gowa merasa bahwa upaya Belanda ini sebagai bentuk kesewenang-wenangan terhadap Budaya Ketimuran yang sangat dijunjung tinggi.Apalagi cara perniagaan yang dilakukan oleh Belanda di beberapa daerah sangat merugikan rakyat dan bertentangan dengan aturan yang ada saat itu.

Ancaman Belanda dimulai dengan penaklukan terhadap Kerajaan-Kerajaan kecil yang ada di sekitar Kerajaaan Gowa. Namunpun begitu, Belanda belumlah puas dikarenakan penguasaan terhadap Bandar Perniagaan masih merupakan Kekuasaan Kerajaan Gowa. Dilain pihak, Kerajaan Gowa sudah mencium gelagat tidak baik Belanda namun masih membuka jalur diplomasi melalui perundingan-perundingan untuk mencari pemecahan masalah.  Akan tetapi, Belanda yang tamak, merasa bahwa jika kepentingannya untuk menguasai perdagangan dan jalur distribusi rempah-rempah tidak akan maksimal jika Kerajaan Gowa masih berdiri kokoh. Acapkali Belanda melanggar perjanjian yang sudah disepakati dengan melakukan gangguan terhadap armada perang Kerajaan Gowa yang menjaga jalur perdagangan rempah-rempah tersebut. Peperangan pun terjadi.

Pada tahun 1660 meletuslah perang antara VOC Belanda yang dibantu oleh Kerajaan Bone dengan Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin). Kerajaaan Bone merupakan Kerajaan Taklukan Gowa, (sebagai catatan leluhur Raja Bone diminta untuk memeluk Agama Islam, namun Beliau diasingkan oleh Bangsawan-Bangsawan Bone termasuk oleh Ibundanya yang masih kukuh dengan kepercayaan lama. Raja Bone tersebut akhirnya Mangkat di Bantaeng dan sebagian pengikutnya bergerak dan akhirnya menetapdi Arungkeke (Jeneponto). Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala’ akhirnya tewas tetapi Arung Palakka berhasil meloloskan diri dan perang tersebut berakhir dengan perdamaian.

Akan tetapi, perjanjian damai tersebut tidak berlangsung lama karena Sultan Hasanuddin merasa dirugikan oleh VOC Belanda dan sekutunya, kemudian menyerang dan merusak Kapal de Walvis dan Kapal Leeuwin milik Belanda. Atas kejadian itu, Belanda marah besar lalu mengirimkan armada perangnya yang besar yang dipimpin oleh Cornelis Speelman. Arung Palakka, penguasa Kerajaan Bone juga ikut menyerang Kerajaan Gowa. Peperangan berlangsung lama, Sultan Hasanuddin akhirnya terdesak dan sepakat untuk menandatangani perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. Perjanjian Bongaya disepakati oleh Sultan Hasanuddin semata-mata memikirkan betapa besar kerugian yang akan diterima oleh Bala Tentaranya dengan pertempuran yang dari sisi teknologi perang saat itu sangat tertinggal jauh ditambah lagi dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh Bangsanya sendiri.

Dampak yang merugikan dari Perjanjian Bongaya tersebut adalah diserahkannya beberapa Benteng Pertahanan Kerajaan Gowa salah satunya adalah Benteng Ujung Pandang yang oleh VOC Belanda diganti namanya menjadi Fort Rotterdam (masih bisa dilihat di kisaran Pantai Losari Makassar). Selain itu, beberapa pengikut Sultan Hasanuddin seperti Karaeng Galesong yang menolak Perjanjian Bongaya, memilih untuk bergabung dengan Trunojoyo di Jawa Timur. Beliau tidak senang terhadap kepongahan VOC Belanda yang ingin menguasai Kerajaan Gowa Berdaulat.

Melihat perkembangan yang ada selepas Perjanjian Bongaya, Pada tanggal 12 April 1668, Sultan Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda. Namun, Belanda sudah semakin kuat, maka Benteng Sombaopu yang merupakan pertahanan terakhir Kerajaan Gowa berhasil dikuasai Belanda. Disinilah bisa dipetik pelajaran betapa Persatuan dan Kesatuan sebagai suatu Bangsa, saat itu masih prematur dan belum kuat, perjuangan-perjuangan di seluruh Nusantara masih didasarkan pada perjuangan untuk menjaga eksistensi Kerajaan masing-masing. Hal inilah yang dijadikan sebagai senjata oleh Belanda dengan menerapkan politik Divide et Impera-nya dengan maksud untuk memecah-belah Kerajaan-Kerajaan di Nusantara. Pelajaran lainnya yang bisa diambil yakni bahwa keberanian yang ditunjukkan oleh Sultan Hasanuddin dan Bala Tentaranya sejatinya adalah sesuatu yang mesti menginspirasi generasi saat ini untuk tidak gampang menyerah betapapun besarnya kesulitan itu.

Hingga akhir hidupnya, tanggal 12 Juni 1670, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Sebagai bentuk Penghormatan terhadap jasa-jasa Beliau, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya dengan SK Presiden RI Nomor 087/TK/1973.

Sumber: Diramu dari berbagai sumber

About tanahkerontang

Berusaha untuk Berpikir Cerdas, Bekerja Keras, Bekerja Tuntas dan Bekerja Ikhlas

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: