//
you're reading...
Pendidikan

Blue Print Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan #01

 

Pendidikan merupakan pilar utama dalam pengembangan sumber daya manusia. Hal ini beralasan dan tak terbantahkan karena peletakan dasar budi pekerti dan pengembangan potensi manusia melalui pendidikan sebagai suatu bagian integral. Kegiatan pendidikan selalu menitikberatkan pada pengembangan sumber daya manusia karena merupakan posisi strategis sebagai asset dan faktor produksi dalam pembangunan. Karena itu membangun sumber daya manusia hendaknya menjadi prioritas utama untuk mewujudkan tujuan Bangsa Indonesia yaitu menciptakan manusia Indonesia yang berbudi pekerti luhur.

Hal ini makin dipertegas dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS yang memberi ruang seluas-luasnya bagi Rakyat Indonesia untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan. Rendahnya mutu pendidikan merupakan salah satu faktor yang mendasari perubahan-perubahan dalam kebijaksanaan pendidikan di Indonesia yang melahirkan Undang-Undang SISDIKNAS tersebut. Disamping itu, terdengar keluhan mengenai ketidaksesuaian antara kemampuan yang diperoleh atau dicapai di sekolah dengan kemampuan yang diperlukan oleh pengguna tenaga kerja. Oleh karena itu disusunlah kebijakan baru dalam paradigma pendidikan untuk lebih menjamin peningkatan mutu pada jenjang pendidikan dasar, menengah, dan kejuruan. Kebijakan ini menuntut adanya hubungan antara sekolah dengan dunia nyata sehingga pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh siswa di sekolah membuatnya berfungsi dalam kehidupannya sehari-hari.

Kebijakan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sebagai upaya untuk memenuhi tuntutan diatas membawa konsekuensi logis pada penyelenggaraan proses belajar mengajar. Untuk itu, pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendukung dalam maksimalisasi ketercapaian Proses Belajar di sekolah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Apalagi jika hal tersebut disinergikan dengan pertumbuhan jumlah siswa yang dari tahun ke tahun makin bertambah seiring dengan kesadaran masyarakat akan manfaat dan proyeksi Sekolah Menengah Kejuruan sebagai penyedia tenaga kerja dengan kompetensi yang dimiliki luarannya.

Setiap sekolah harus menyadari sepenuhnya akan tantangan yang dihadapi dan melakukan penyikapan terhadap hal tersebut diatas dengan melakukan langkah-langkah antisipatif dengan proyeksi dan perhitungan matang tentang realitas yang berkembang di masyarakat. Kemudahan akses transportasi, program-program terencana dan terukur serta dukungan dari stakeholder merupakan beberapa faktor pendukung berkembangnya sebuah SMK.  Disamping itu terdapat pula beberapa kendala yang dihadapi, diantaranya Belum tersedianya Sarana Prasarana yang memadai; belum tercapainya standar kompetensi bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Belum terciptanya sinergitas antara Sekolah dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri, serta belum tersedianya bahan ajar yang mendukung maksimalisasi prose belajar, serta pengelolaan Administrasi Pembelajaran yang belum optimal.

Berangkat dari kondisi diatas, setiap sekolah mesti kembali merumuskan seperti apa visi yang hendak dicapai dan dalam penentuan visi tersebut haruslah memperhatikan prinsip Imagible (dapat di bayangkan); Desirable (menarik); Feasible (realistis dan dapat dicapai); Focused (jelas); Flexible (aspiratif dan responsif terhadap perubahan lingkungan); serta Communicable (mudah dipahami). Setelah mengetahui dan membuat rumusan visi yang jelas, sebuah sekolah selanjutnya menetapkan Misi yang semestinya merupakan terjemahan secara konkret terhadap harapan / visi yang telah dirumuskan sebelumnya. Kejelasan visi dan misi akan memudahkan sekolah dalam mencapai tujuan yang hendak diinginkan.

Ketidakjelasan visi, misi dan tujuan dari sebuah sekolah akan berakibat pada eksistensi dan pengembangannya dimasa mendatang. Tentunya hal tersebut bukanlah satu-satunya yang mempengaruhi perjalanan sebuah sekolah, masih banyak faktor lain seperti manajemen kepemimpinan, pola pendistribusian tugas dan tanggungjawab, serta penerapan profesionalisme dalam bentuk pemberian reward dan pemberlakuan punishment.

Selain itu, sebuah sekolah mesti memperhatikan situasi dan faktor lingkungan disekitarnya sebagai suatu potensi yang mesti dimaksimalkan. Situasi dan lingkungan sekitar sekolah mesti dikerahkan dan diberdayakan sebagai salah satu suply energi untuk menggerakkan sekolah dan itu diadasarkan pada seperti apa perangkat-perangkat di sekolah yang bersangkutan melakukan analisis kritis (SWOT). Contoh yang bisa dikemukakan diantaranya, perbedaan menyolok akan terlihat pada sebuah sekolah yang menjalin interaksi kontinyu dengan Dunia Usaha/Dunia Industri di sekitarnya dengan sekolah yang tidak memaksimalkan keberadaan Dunia Usaha /Dunia Industri di daerahnya. Sekolah yang menjalin kerjasama intens dengan Stake Holder (salah satunya DU/DI) akan mempunyai gambaran yang jelas tentang proyeksi kebutuhan tamatannya (minimal), sementara yang tidak memanfaatkan DU/DInya akan berjalan tanpa arah yang jelas. Mengapa demikian? Karena sebuah sekolah (SMK) adalah produsen yang menyiapkan tenaga kerja tingkat menengah untuk diserap oleh DU/DI yang dan itu mutlak adanya.

Disinilah perlunya kejelasan relevansi keberadaan sebuah sekolah dalam pembangunan Daerah. Penentuan Program Studi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan jasa di daerah akan berimplikasi pada animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Menengah Kejuruan dan pada akhirnya akan memberi dampak pada perbaikan taraf hidup masyarakat dikarenakan besarnya keterserapan tamatan dari SMK bersangkutan. Dalam Grand Design Pendidikan Indonesia ditegaskan bahwa pendidikan yang dikelola dengan baik dan tepat sasaran akan mengupgrade taraf ekonomi masyarakat.

Penataan sekolah dalam hal ini SMK perlu dilakukan sebagaimana pula pentingnya dilakukan pendekatan-pendekatan inovatif sebagai penyikapan positif terhadap perkembangan yang terjadi dimana tuntutan terhadap SMK yang semakin besar dimana awalnya SMK “hanya” diposisikan sebagai “pabrik tenaga kerja”, namun sekarang SMK didudukkan sebagai wadah untuk melahirkan jiwa kewirausahaan yang melahirkan konsep Teaching Industry atau Teaching Factory. Teaching Factory merupakan salah satu bentuk kerjasama yang dibangun antara sekolah dengan industri. Teaching Factory adalah suatu konsep pembelajaran dalam suasana sesungguhnya, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan pengetahuan sekolah. Teknologi pembelajaran yang inovatif dan praktek produktif merupakan konsep metode pendidikan yang berorientasi pada manajemen pengelolaan siswa dalam pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan dunia industri. (Brosur IGI, 2007).

Dalam pengertian lain bahwa pembelajaran berbasis produksi merupakan suatu proses pembelajaran keahlian atau keterampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang atau jasa yang sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen. Dengan kata lain barang yang diproduksi dapat berupa hasil produksi yang dapat dijual atau yang dapat digunakan oleh masyarakat, sekolah atau konsumen.

Program Teaching Factory merupakan perpaduan pembelajaran yang sudah ada yaitu Competency Based Training (CBT) dan Production Based Training (PBT), dalam pengertiannya bahwa suatu proses keahlian atau keterampilan (life skill) dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan tuntutan pasar/konsumen.Dalam penjelasan singkatnya Teaching Factory adalah pembelajaran berorientasi bisnis dan produksi. Proses penerapan program Teaching Factory adalah dengan memadukan konsep bisnis dan pendidikan kejuruan sesuai dengan kompetensi keahlian yang relevan,misalnya : pada Program Studi Keahlian Tata Boga melalui kegiatan pembuatan dan penjualan produk olahan makanan yang dikerjakan oleh peserta didik.

Bersambung

About tanahkerontang

Berusaha untuk Berpikir Cerdas, Bekerja Keras, Bekerja Tuntas dan Bekerja Ikhlas

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: