//
you're reading...
Pendidikan

Lemahnya kontrol terhadap Buku Pelajaran Kontroversial

Beberapa waktu yang lalu masyarakat diresahkan dengan peredaran buku pelajaran kontroversial. Bukan dalam konteks mencari pihak yang bertanggungjawab terhadap hal itu, tetapi lebih pada persoalan koreksi dan antisipasi sehingga hal tersebut tidak mesti terjadi dimasa mendatang.

Setiap buku pelajaran yang ditulis mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan pemerintah dalam hal ini Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan dasar itulah para penulis buku menyusun tulisan berdasarkan rambu-rambu dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.  Buku yang ditulis oleh para penulis buku tentunya berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang disusun oleh pemerintah, dalam hal ini kementrian pendidikan nasional.

Konten seperti itu tidak beredar di satu atau dua daerah saja, tetapi terdapat di beberapa daerah yang lain. Ternyata masih banyak buku yang beredar dengan konten sejenis tanp kontrol atau sensor dari pihak terkait, Dinas Pendidikan daerah setempat, Sekolah dan Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendiknas. Wajarlah kalau muncul pertanyaan dari berbagai pihak apakah setiap buku tidak melalui proses edit atau lembaga sensor buku? Ataukah jangan sampai buku bebas beredar tanpa adanya uji kelayakan dari pihak yang berwenang?

Tanggapan pihak Dinas Pendidikan sendiri sepertinya memang (sedikit banyak) mengakui bahwa kontrol terhadap kehadiran buku-buku pelajaran tidaklah ketat dan cenderung mengambil langkah kuratif setelah kasus mencuat bukannya mengambil langkah antisipatif dengan mengecek keberadaan Penerbit, memeriksa konten buku, sampai memastikan bahwa buku-buku tersebut terdaftar di Kementerian Pendidikan Nasional dalam hal ini Pusat Kurikulum dan Perbukuan (PUSKURBUK). Dengan kata lain tidak menunggu adanya kasus sejenis lalu mengambil tindakan.

Kalau sudah begini, pastinya akan muncul ungkapan bahwa perlu keterlibatan semua pihak untuk mencegah kejadian ini terulang. Hmmmm. Kontrol publik, masyarakat, orangtua siswa dan guru sebagai level terbawah mesti menjadi corong dalam mendeteksi kesalahan isi buku pelajaran karena berharap terlau banyak pada pemerintah sepertinya tidak efektif jika berkaca pada kenyataan saat ini dimana pemerintah teledor dalam menjalankan fungsi kontrolnya terhadap buku-buku pelajaran bermuatan tidak lazim seperti itu. Jelas terasa kepentingan bisnis mengalahkan keinginan kita untuk memberikan materi ajar yang sesuai dengan usia dan perkembangan psikologis anak-anak kita.

Kalau urusannya seperti ini, wajar kalau sempat muncul pemikiran bagaimana dengan buku-buku lainnya, sejenis komik, majalah dan novel-novel picisan? Tentunya banyak sekali konten buku yang sebenarnya tidak layak dibaca anak-anak tapi muncul di buku-buku yang diperuntukkan untuk anak-anak. Salah satu solusi yang bisa dikemukakan adalah perlu dibentuk Lembaga Sensor Buku jika harapan terhadap Pusat Kurikulum dan Perbukuan KEMDIKNAS tidak bisa mengapresiasi harapan kita.

Diusia emas anak-anak kita sudah dijejali dengan kata-kata, gambar dan konten yang tidak pantas dan sangat berpengaruh dalam perkembangan psikologisnya.Sebagai masyarakat yang peduli terhadap perkembangan jiwa anak-anak bangsa, semua pihak sebaiknya menjadi agen aktif yang ikut ambil bagian dalam menyensor isi buku-buku yang digunakan oleh para peserta didik kita.

Sumber: dari berbagai sumber

About tanahkerontang

Berusaha untuk Berpikir Cerdas, Bekerja Keras, Bekerja Tuntas dan Bekerja Ikhlas

Diskusi

2 thoughts on “Lemahnya kontrol terhadap Buku Pelajaran Kontroversial

  1. Betul, Mas.
    Selain masalah penerbitan, perkara distribusi juga jadi hal yg penting.
    Jgn sampai kasus buku remaja masuk sekolah dasar terulang kembali.

    Salam kenal🙂

    Posted by ayip7miftah | 26 Juni 2012, 08:26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: