//
you're reading...
Biografi

Belajar dari Bai Fang Li

(Kisah tentang Bai Fang Li ini diangkat untuk menjadi inspirasi setelah melihat kenyataan di beberapa daerah, bahwa orang yang sebenarnya mampu, malah mati-matian mengharap untuk diberi. Anak orang mampu banyak yang mendapat beasiswa misalnya, celakanya untuk mendapatkan itu orangtuanya menggunakan “katebelece” atau fasilitas dari orang tertentu. Huh).

Heran. Kenapa orang seperti Bai Fang Li yang “hanya” seorang Pengayuh Becak di Tianjin, Cina. Bai Fang Li hidup sederhana dengan semangat hidup yang tetap terjaga. Pergi pagi, pulang malam ia jalani dengan penuh semangat.

Ia hampir tidak pernah membeli makanan, makanan yang ia konsumsi adalah hasil dari memulung. Bukan karena penghasilannya tidak mencukupi, tetapi penghasilan yang ia peroleh digunakan untuk menyumbang sebuah yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an orang anak tidak mampu. Hal ini terjadi saat ia melihat seorang anak yang menjajakan jasa sebagai buruh panggul barang untuk seorang Ibu yang dari penghasilan tersebut, si anak gunakan untuk membelikan makanan untuk 2 orang adiknya. Sementara untuk dirinya sendiri sang anak memilih untuk mengais makanan di tempat sampah.

Sebuah kenyataan yang akhirnya mempengaruhi jalan hidup Bai Fang Li, Sang Pengayuh Becak yang dermawan. Melihat kenyatan itu, bai Fang Li lalu mendekati si anak lalu mencari tahu dimana tempat tinggalnya dan alasan si anak untuk mengais makanan padahal dari jasa buruh panggul yang ia geluti.

Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.

Sejak itulah (Tahun 1986), semua penghasilan yang ia peroleh disumbangkan untuk yayasan tersebut dan berharap memberi manfaat dari uang tersebut. Bai Fang Li telah menyumbangkan uang sebesar 350.000 yuan atau senilai Rp. 472,5 juta. bai fang Li akhirnya meninggal dunia pada usia 91 tahun akibat penyakit paru-paru yang ia derita. Dengan semangat yang ia tunjukkan, mestinya kita semua mulai bercermin diri. Apakah kita layak untuk menengadahkan tangan dengan berharap bantuan, mestinya kitalah yang memberi.

Bukankah dalam Islam kita diajarkan untuk bersedekah?

Semoga menjadi renungan.

About tanahkerontang

Berusaha untuk Berpikir Cerdas, Bekerja Keras, Bekerja Tuntas dan Bekerja Ikhlas

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: