//
you're reading...
Umum

Bila Indonesian Idol lebih ketat dari seleksi CaLeg

Model seleksi ajang pencarian bakat Indonesian Idol patut dicontoh dalam seleksi calon legislatif ke depan, sehingga menghasilkan politisi berkualitas. Bahkan, seleksi caleg harus lebih ketat dari ajang mencetak penyanyi dalam konteks upaya pencegahan dini Caleg Bermasalah.

Tak bisa ditampik, rakyat Indonesia lebih gandrung mengikuti ajang pencarian bakat penyanyi karena menghibur, dibanding memelototi ajang seleksi caleg. Pasalnya, anggota dewan di parlemen kerap mengecewakan masyarakat. Sudah seharusnya partai-partai itu menyeleksi calegnya lebih ketat. Masa seleksi caleg sendiri masih kalah jika dibandingkan dengan seleksi Indonesian Idol yang bahkan lebih ketat.

Jika dicontohkan, kalau perlu untuk melahirkan caleg berkualitas, parpol harus mengkarantina kadernya agar memiliki pengetahuan yang cukup mengenai ilmu kepemerintahan, kewarganegaraan dan wawasan nusantara yang tak kalah penting termasuk mengidentifikasi kepekaan sosial dan kemampuan dalam pembacaan situasi dan kondisi yang berkembang di masyarakat.

Selain karantina, psikotes juga sangat penting bagi parpol yang ingin mengirimkan calegnya untuk duduk di DPR RI, DPRD Provinsi, Kabupaten atau Kota. Psikotes ini ditempuh untuk mengukur stabilitas dan kecerdasan emosional seorang caleg. Tak menutup kemungkinan tes IQ dan EQ dilakukan.

Faktanya saat ini, parpol justru lebih pragmatis karena lebih sayang caleg karena isi tasnya, daripada kapasitas dan kapabilitasnya tanpa memedulikan, jika pada akhirnya, caleg berkualitas karena isi tas tersebut menyisihkan caleg berkualitas dalam arti sebenarnya. Tidak heran apabila masyarakat sampai saat ini masih belum menempatkan Parpol sebagai tumpuan harapan dalam memperjuangkan aspirasi dari realitas hidup yang dihadapi. Terlalu banyak kepentingan yang berefek pada Politik Transaksional.

Menjadi tidak penting, jika kader belaka mengejar pencitraan tetapi tidak memahami visi dan misi partai pengusung yang diperparah tidak/kurang memiliki kepekaaan sosial. Maka, peran parpol harus lebih fokus dalam menggenjot dan mengeksplorasi kemampuan kader yang kaya ilmu sesuai bidangnya.

Calon Legislatif yang akan terjun didunia politik haruslah menunjukan kemampuannya dengan usahanya sendiri, bukan malah menjual popularitas diri, keluarga dan kroninya. Sehingga dapatlah disimpulkan bahwa parpol memiliki tanggungjawab moral dalam menguatkan kapasitas caleg-calegnya. Hal yang penting adalah masyarakat mampu mengakses rekam jejak caleg yang akan bertarung pada Pemilu 2014 nanti. Akses informasi ini berkaitan dengan jumlah harta kekayaan, tingkat intelektual dan latarbelakang sosial lainnya yang dijadikan referensi dalam memilih pada Pemilu 2014 nanti.

About tanahkerontang

Berusaha untuk Berpikir Cerdas, Bekerja Keras, Bekerja Tuntas dan Bekerja Ikhlas

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: