//
you're reading...
Umum

Terimakasih Radjamilo

Betapa banyak gambaran yang memperlihatkan betapa paradigma Jeneponto saat ini telah mengubah wajah Jeneponto sesungguhnya. Bukan pada benar atau salahnya suatu paradigma, dimana yang benar akan memenangkan paradigma yang lain. Ritzer (1975) mengungkapkan bahwa “Kemenangan satu paradigma atas paradigma lain lebih disebabkan karena para pendukung paradigma yang menang itu lebih memiliki kekuatan dan kekuasaan (power) dari pengikut paradigma yang dikalahkan, dan sekali lagi bukan karera paradigma yang menag itu lebih benar atau lebih baik dari yang dikalahkan”. Lalu dalam konteks Jeneponto kita diperhadapkan pada realita, bahwa bangunan paradigma yang menginfiltrasi pemikiran pemerintah daerah Jeneponto, telah begitu jauh merusak tatanan sosio kultural masyarakat.

Paradigma perubahan merupakan pilihan sama sekali tidak didasarkan pada persoalan benar dan salahnya teori yang mendasari, tetapi lebih dikaitkan dengan persoalan mana teori yang akan berakibat pada penciptaan emansipasi, komunikasi,  hubungan-hubungan dan struktur yang secara mendasar lebih baik. Oleh karena itu, pemilihan paradigma dan perubahan sosial adalah suatu pemihakan dan berdasarkan nilai-nilai tertentu yang dianut.

Mestinya suatu paradigma, dalam hal ini paradigma perubahan Jeneponto itu terlahir dari suatu analisis dan pembacaan yang runut dan tuntas tentang realitas yang berkembang. Pembacaan dan pemahaman tentang betapa bobroknya layanan terhadap masyarakat, realita tentang pengabaian hak-hak sipil, lemahnya tanggungjawab moral aparatur, pemiskinan dan pembodohan yang dilakukan secara sistematis, pelemahan nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) masyarakat Jeneponto dan sebagainya.

Banyak contoh yang terpampang sehari hari yang menguatkan analisis tentang perubahan. Betapa Pegawai Negeri Sipil yang konsep awalnya didesain sebagai pelayan masyarakat (civil servant), sekarang hanya berusaha untuk menggugurkan kewajiban belaka. Rutinitas harian yang sering dijumpai saat melintas depan Kantor Bupati, apel pagi, lalu ngobrol di lobi-lobi kantor. Sebagian diantaranya mungkin masih punya sedikit waktu untuk membaca koran harian, lalu beranjak pulang karena tidak ada aktifitas berarti di kantor. PNS-PNS yang direkrut tanpa mempertimbangkan analisis dan kebutuhan. Hanya berdasar keinginan, keinginan segelintir orang. Bukan pelayan masyarakat, tapi pelayan atasan.

Tak heran sering dijumpai PNS yang mengisi waktu dengan ngopi dan kongkow-kongkow di warung coto. Bicara tentang suksesi kepemimpinan, berharap mendapat pimpinan baru agar dompet kembali tebal. Atau membahas kejutan-kejutan baru, mutasi. Harap-harap cemas semoga tak dilempar ketempat kering dan jauh dari tempat tinggalnya. Energi yang ada terkuras untuk hal-hal yang tidak penting dan jauh dari substansi. Kalau begitu, jangan harap potensi mereka (kalau ada) dapat didayagunakan untuk bekerja melayani kepentingan masyarakat. Deskripsi dari situasi yang kontraproduktif yang semakin akut karena lemahnya konsep berpikir masyarakat yang masih menganggap PNS sebagai pilihan terbaik. Ada jaminan hari tua, gaji pensiun. Biar sedikit yang penting stabil dan lancar, kata beberapa teman PNS.

Disudut yang lain, tampak tukang-tukang becak yang beristirahat setelah mendapat  beberapa lembar uang ribuan, asyik ngobrol diatas becaknya. Ada pula yang hanya memilih untuk tiduran, mungkin menganggap tidur lebih bermanfaat daripada ikut nimbrung dalam pembicaraan teman-temannya. Pembicaraan yang sedang jadi trending topic di Jeneponto, Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati. Mungkin pikirnya, buat apa pusing pikirkan siapa yang bakal jadi Bupati dan Wakil Bupati, toh belum tentu mampu memberi angin segar bagi perbaikan nasib dirinya dan kawan-kawan yang lain.

Sementara ditempat lain, Bapak Petani terkantuk-kantuk di balai bambu yang sudah reot. Menanti air. Lelah berpikir, mencari cara agar sawah ladangnya yang kering mendapat jatah air yang entah kapan bisa dipenuhi pemerintah. Berharap dan selalu berharap, walau mungkin sudah mulai dihinggapi keputusasaan, menanti datangnya sahabat: Air, Pupuk dan Bibit yang katanya gratis.  Hal-hal dasar yang mestinya terpenuhi. Singkirkan angan tentang mekanisasi pertanian. Tepis impian petani berdaulat. Basi bicara teknologi pertanian. Kelompok tani sebagai simpul, tak lebih dari boneka orang-orang korup yang mencari untung.

Miris mengingat petikan puisi Bumi Turatea Karya Ahmadi Haruna, dalam Buku Kumpulan Puisi Kana Tojeng. Siang hari. Petani duduk di ladang. Kopi di kiri, dji sam soe di kanan. Petani mencakar kredit. Petani membayar pinjaman. Petani menghitung laba. Hasilnya cukup satu musim tanam. Alhamdulillah.  Adakah pusi diatas mewakili realita kehidupan petani Jeneponto? Pernahkah terlihat petani dengan kopi di kiri, dji sam soe di kanan? Dimana? Kapan petani pernah menghitung laba? Hah.

Sementara itu, disepanjang pantai Jeneponto, Petani Rumput Laut setia dengan tali bentang. Walau mulai rapuh, tapi tak sanggup mencari ganti. Pernah kecewa, janji akan diperhatikan, malah disepelekan. Sedikit bantuan untuk mengganti tali bentang, bibit yang baik, atau setidaknya cukuplah untuk mengganti para-para bambu yang sudah rapuh tersengat teriknya matahari Jeneponto yang menyengat. Kepastian pasar tentulah diharap, tapi untuk saat ini hanyalah angan belaka. Mungkin sedikit sesal tatkala merubah haluan dari nelayan penangkap ikan, menjadi petani rumput laut. Bukannya untung, nestapa yang ada. Tak berdaya, miskin, dan papa.

Guru-guru di sekolah, sekadar mencukupkan jam mengajar, agar bersyarat untuk sertifikasi. Dengan birokrasi yang berbelit, ditambah pelicin seperlunya, jadilah kemerdekaan guru dirampas. Dirampas keinginan untuk memiliki mobil sekelas Avanza, Xenia dan sejenisnya. Dirampas oknum Dinas Pendidikan yang korup dan mata duitan. Bukan tak terencana, tapi memang didesain sedemikian rupa, agar timbul ketergantungan. Sangat mungkin karena timpangnya kesejahteraan Guru Jeneponto dibanding daerah-daerah tetangga. Diperparah penyakit impoten dan lemah syahwatnya organisasi guru yang tidak sanggup memperjuangkan nasib dan hak-hak para guru. Tidak lagi sanggup bicara, diredam kuasa rezim otoriter, rezim teror, karena organisasi guru telah menjadi corong penguasa, menjadi organisasi yang hanya tahu menghitung berapa potongan yang diperoleh tiap bulannya.

Tidak heran sering ditemui guru, sang pendidik, dengan tergopoh-gopoh seakan tanpa daya melawan kuasa. Guru yang dipaksa dan terpaksa berwarna sama, Orange, tapi bukan jus Orange. Sulit ditemui Guru yang masih setia dan amanah, membentuk Sumber Daya Manusia Jeneponto yang unggul dan berakhlak mulia.

Potret buram Jeneponto yang sangat jauh dari harapan. Deskripsi yang belum merepresentasi wajah Jeneponto, tapi paling tidak memberi gambaran betapa jauh kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Kenyataan yang sangat tidak relevan jika disandingkan dengan bunyi Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat.  Bahwa Pilkada tahun ini sebagai rahim untuk melahirkan pemerintahan Jeneponto yang visioner, kreatif, inovatif, demokratis, peka dan membumi mesti jadi tuntutan, karena didalamnya ada harapan.

Harapan untuk perbaikan taraf hidup masyarakat. Harapan bukan semata suksesi kepemimpinan. Tapi lebih dalam kepada penyelamatan dan memahami esensi perubahan. Perubahan pola pikir segenap elemen masyarakat Jeneponto yang bermuara pada terbentuknya Paradigma Baru, masyarakat yang berdaulat. Bagaimana suatu kepemimpinan tidak semata mengejar peringkat pembangunan manusia yang selama ini ditafsirkan sebagai refleksi dari kepemimpinan pemerintah daerah. Tapi, harus lebih membumi, bagaimana kedaulatan masyarakat dikembalikan seutuhnya, kedaulatan yang bermakna pengembalian hak-hak yang dirampas rezim Radjamilo yang tanpa visi, konservatif, dan otoriter seperti saat ini.

Rezim yang hanya pandai berkelit dan berdalih keterbatasan anggaran (devisit). Kontras bila meninjau kalkulasi Bappenas, BPS serta UNDP pada tahun 2004, serta pengalaman empirik di beberapa daerah seperti Kabupaten Jembrana (Bali), Kabupaten Solok (Sumatera Barat) dan Kota Blitar (Jawa Timur), dimana dapat disaksikan betapa visi, kreatifitas dan kemampuan berinovasi serta watak demokratis dari jajaran pemerintah daerah, tergambar jelas bahwa tidaklah banyak anggaran yang dibutuhkan untuk mewujudkan standar minimal pembangunan manusia. Yang dibutuhkan adalah efisiensi pemerintahan, serta kemauan dan ketegasan untuk memulai pelaksanaannya. Nah.

Apalagi jika ditunjang oleh komitmen seluruh jajaran pemerintah daerah, legislatif, eksekutif dan yudikatif, beserta seluruh kekuatan sosial politik di Jeneponto yang secara proaktif memacu dan mendayagunakan manusianya. Tentu bukan mustahil hal tersebut dapat terwujud.

Namunpun demikian, semoga tak ada yang alergi, mengernyitkan dahi sembari memicingkan mata jika kita semua, masyarakat Jeneponto sudah sepantasnya berterima kasih kepada Radjamilo. Berterima kasih atas lahirnya penyadaran. Berterima kasih atas besarnya arus perubahan. Semua tak akan hadir dan bergerak bersama, jika Radjamilo becus mengelola Jeneponto. Bukankah kenyataan hari ini merupakan efek dari ketidakmampuan Radjamilo dalam membawa “Masyarakat Jeneponto menuju masyarakat yang Sejahtera dan Bermartabat dalam bingkai Agama?”.

Sembari merenungkan, “adakah kita harus memihak, karena pemihakan adalah mustahil dihindarkan” (Mansour Fakih, Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi, 2001). Tetapi masalahnya adalah kepada siapa atau terhadap apa pemihakan tersebut diabdikan? Dan apakah kita telah Siap dan Bisa menjadi Agen Perubahan? Atau cukup sekedar pelengkap penderita yang hanya mampu teriak “Perubahan”, “Perubahan”, dan “Perubahan”, tanpa pahaman yang jelas tentang esensi perubahan lalu pucat dalam kilasan sejarah Jeneponto? [Bram M. Sultan).

About tanahkerontang

Berusaha untuk Berpikir Cerdas, Bekerja Keras, Bekerja Tuntas dan Bekerja Ikhlas

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: